Perubahan Iklim dan Ancaman Senyap

Perubahan Iklim dan Ancaman Senyap

Oleh: Christopher Nathanael, Vito Dimas Suryanto



Di balik maraknya berita tentang krisis dan perubahan iklim, ada satu ancaman senyap yang belum banyak dibahas, yaitu tuberkulosis (TBC). Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang biasa menyerang paru-paru dan juga dapat menyerang bagian tubuh lainnya. TBC bisa menular melalui udara, seperti ketika penderita TBC batuk, bersin, dan berbicara, sehingga bakteri berpeluang dihirup oleh orang lain. Meskipun penyakit ini sudah lama dikenal masyarakat Indonesia, hubungan antara penyebarannya dengan perubahan iklim masih belum banyak diperbincangkan. Akhir-akhir ini sudah ada sejumlah studi dan penelitian terbaru yang menunjukkan kalau krisis iklim tidak hanya mengubah cuaca dan pola hidup manusia saja, tetapi juga mempercepat penyebaran penyakit dan memperburuk kondisi kesehatan global.

Indonesia saat ini menempati peringkat kedua di dunia dalam jumlah kasus tuberkulosis (TBC) tertinggi setelah India. Menurut data dari Kementrian Kesehatan Indonesia (Kemenkes), kasus TBC di Indonesia dapat diestimasikan mencapai 1 juta kasus, dengan angka kematian 136 ribu orang setiap tahunnya. Kasus TBC di Indonesia terus mengalami peningkatan, 724,309 kasus di tahun 2022, 821,000 kasus di tahun 2023, dan 889,000 kasus di tahun 2024. Namun, yang lebih mengkhawatirkan, kenaikan suhu udara, cuaca ekstrem, hingga penurunan kualitas air ternyata memperluas cakupan penyebaran penyakit, termasuk tuberkulosis (TBC). Peneliti Pusat Riset Sains Data dan Informasi (PRSDI) BRIN, Dianadewi Riswantini, menyatakan bahwa krisis iklim turut berkontribusi terhadap penyebaran sejumlah penyakit, termasuk tuberkulosis (TBC). “Studi Climate Epidemiology yang kami lakukan bertujuan untuk memahami, merencanakan, dan mencegah berbagai dampak perubahan iklim. Selain itu, hasilnya diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam mengantisipasi risiko kesehatan dan menyusun strategi adaptasi untuk melindungi kesejahteraan masyarakat,” ujar Dianadewi dalam keterangannya, Senin (19/5). Dalam riset yang berjudul Potential Risk of New Tuberculosis Cases in West Java, tim peneliti BRIN menganalisis penyebaran kasus TB terbaru di provinsi tersebut dalam kurun waktu 2019-2022. Data yang digunakan bersumber dari BPJS, BPS Jawa Barat, Open Data, serta data iklim global dari Copernicus Climate. Hasilnya menunjukkan bahwa Kabupaten Karawang, Majalengka, dan Kuningan memiliki interaksi spasio-temporal yang kuat terhadap penyebaran tuberkulosis (TB). Sedangkan, wilayah Kabupaten Bogor, Sukabumi, Karawang, dan Bandung secara konsisten menunjukkan tingkat risiko yang relatif tinggi, dengan nilai risiko berkisar antara 1-15. Melihat tingginya peningkatan kasus TBC, kebijakan dan strategi pengendalian penyakit TBC sangat perlu mendapatkan perhatian, terutama oleh pemerintah dan kementrian kesehatan. Untungnya sudah ada gerakan dari pemerintah seperti TOSS TB. TOSS TB (Temukan, Obati, Sampai Sembuh) ini adalah gerakan kampanye di Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan upaya penemuan, diagnosis, pengobatan, hingga pemantauan pasien tuberkulosis (TBC). Gerakan ini tentunya diciptakan untuk menghentikan/meminimalisir penularan TBC di masyarakat dan mengurangi angka kasus TBC di Indonesia. Pemerintah juga berupaya memperkuat fasilitas kesehatan seperti puskesmas, dan juga memberikan edukasi kepada publik tentang pentingnya kebersihan dan mengenali gejala-gejala awal TBC. Tak kalah penting, upaya mitigasi perubahan iklim harus bisa menjadi solusi jangka panjang terhadap ancaman kesehatan seperti TBC. Untuk mewujudkan hal ini, pemerintah dan masyarakat harus saling bekerja sama, contohnya: 1. Menghemat pemakaian energi listrik untuk mengurangi emisi karbon dari pembangkit listrik. 2. Menggunakan transportasi umum untuk mengurangi konsumsi energi dan emisi karbon dioksida. 3. Melindungi lahan hijau, melakukan reboisasi. 4. Mengurangi pembakaran sampah dan rokok. 5. Memberikan edukasi tentang kesadaran iklim. Dengan memperkuat kolaborasi antara pemerintah, peneliti, tenaga medis, dan juga masyarakat, kita bisa meminimalisir penyebaran TBC sekaligus melindungi alam Indonesia. Menjaga lingkungan bukan sekedar menyelamatkan alam, tetapi juga menyelamatkan hidup kita sendiri.



Komentar